SEMARANG, LDF FKMI SV – Kota Semarang mencatatkan sejarah membanggakan dengan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-31 yang digelar pada 11 hingga 20 September 2026. Mengusung tema "Menebar Cahaya Al-Qur'an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban", ajang ini sukses menyedot perhatian dengan hadirnya sekitar 8.000 peserta dan kafilah dari 38 provinsi di seluruh Indonesia.
Dipusatkan di Lapangan Simpang Lima, perhelatan ini rupanya membawa dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar ajang perlombaan. Di balik lantunan ayat suci yang menggema, ada geliat ekonomi dan kisah perjuangan syiar yang patut disorot.
Dari kacamata warga lokal, MTQ Nasional ini adalah sebuah pesta rakyat yang edukatif. Najwa, seorang siswi SMA yang juga warga asli Semarang, mengungkapkan kebanggaannya saat ditemui di lokasi pameran pada Kamis (17/9). Menurutnya, rangkaian acara tambahan seperti Pameran UMKM dan Job Fair sangat menghidupkan perekonomian kota. “Kawasannya jadi sangat hidup dan meriah. Ini bukan cuma lomba, tapi juga syiar Islam yang dikemas secara modern dan mendidik bagi anak-anak muda lokal,” tuturnya.
Namun, di balik kemegahan panggung dan gemerlap lampu Simpang Lima, ada keringat dan perjuangan luar biasa dari para peserta. Hal ini diceritakan oleh Mas Fendi, pendamping tim finalis hadroh Dinul Mahabah asal Kediri.
Perjalanan tim Dinul Mahabah menuju panggung utama nasional tidaklah mudah. Mereka sempat dihadapkan pada ketidakpastian jadwal akibat penundaan pengumuman finalis—yang mulanya dijadwalkan pada 2 September, bergeser ke 5 September, hingga akhirnya baru diumumkan pada 7 September. Ketangguhan mental mereka kembali diuji saat harus maju tampil lebih awal pada 17 September. Keputusan ini diambil secara sadar karena mayoritas personel adalah tulang punggung keluarga yang harus segera kembali bekerja.
“Persiapan kami jujur cukup mepet, ditambah kelelahan akibat perjalanan jauh dari Kediri dan sedikit demam panggung. Tapi melihat fasilitas panggung yang sangat megah dan koordinasi panitia di Hari-H yang luar biasa memuaskan, semua lelah itu terbayar lunas,” ungkap Mas Fendi dengan penuh rasa syukur.
Perhelatan MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang menjadi bukti nyata bahwa dakwah dan seni Islam dapat menyatukan berbagai elemen masyarakat. Dari antusiasme warga lokal yang menyambut hangat, hingga pengorbanan para kafilah yang datang dari jauh, semuanya bermuara pada satu tujuan: membumikan nilai-nilai Al-Qur'an di bumi Nusantara.

