“Ngapain ikut kajian? Emang bakal ngaruh?” Mungkin pernah ada pertanyaan seperti itu di kepala kita. Atau mungkin kita pernah mendengar teman bertanya demikian. Di tengah padatnya kuliah, tugas, organisasi, dan berbagai kesibukan lainnya, meluangkan waktu untuk datang ke kajian memang kadang terasa seperti hal yang bisa ditunda. Tapi di sisi lain, kita juga sering merasa senang ketika melihat sebuah kajian dipenuhi mahasiswa. Poster tersebar di mana-mana, pendaftaran terus bertambah, kursi yang semula kosong perlahan terisi, dan ketika acara dimulai hampir tidak ada tempat yang tersisa. Sebagai orang yang ikut mengambil bagian di dalamnya, tentu ada rasa syukur. Ada kebahagiaan ketika melihat banyak orang datang untuk mendengarkan ayat-ayat Allah dan belajar tentang Islam. Namun, setelah acara selesai dan ruangan kembali kosong, mungkin ada satu pertanyaan yang sesekali perlu kita tanyakan kepada diri sendiri. Dari semua orang yang datang hari ini, berapa banyak yang akan terus berjalan setelah mereka pulang? Pertanyaan ini bukan untuk mengecilkan arti sebuah kegiatan. Banyaknya peserta tetap penting dan dapat menjadi salah satu cara untuk melihat sejauh mana sebuah kegiatan menjangkau mahasiswa. Hanya saja, mungkin ada hal lain yang perlu kita lihat lebih jauh. Apakah dakwah hanya soal ramai, atau soal sampai? Sampai pada hati yang sedang mencari. Sampai pada seseorang yang sedang berusaha memperbaiki diri. Sampai pada kehidupan yang mungkin tidak pernah kita lihat setelah acara berakhir. Dakwah adalah upaya menyampaikan ajaran Islam sebagaimana yang telah Rasulullah ﷺ ajarkan kepada kita. Dalam prosesnya, kita tidak hanya berbicara tentang apa yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami orang yang menjadi sasaran dakwah. Mahasiswa yang hadir dalam sebuah kegiatan bukan sekadar peserta. Mereka datang dengan latar belakang, pengalaman, persoalan, dan perjalanan spiritual yang berbeda-beda. Ada yang sudah lama belajar agama, ada yang baru mulai tertarik, dan mungkin ada pula yang sedang mencari jalan untuk kembali mendekat kepada Allah. Maka, mungkin dakwah bukan hanya tentang bagaimana membuat mereka datang, tetapi juga bagaimana menemani mereka setelah datang.
Bagaimana Rasulullah ﷺ Berdakwah? Jika melihat perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, kita akan menemukan bahwa dakwah memiliki tahapan dan proses. Pada masa awal kenabian di Makkah, Rasulullah ﷺ menyampaikan dakwah kepada orang-orang terdekat dan mereka yang menerima dakwah beliau. Proses tersebut berlangsung secara bertahap hingga kemudian datang perintah untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan. Salah satu tempat yang dikenal dalam fase awal dakwah tersebut adalah rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Di sana, Rasulullah ﷺ membina para sahabat, mengajarkan Al-Qur'an, dan menguatkan keimanan mereka. Dari tempat yang sederhana itu, terbentuk pribadi-pribadi yang kemudian mengambil peran besar dalam perjalanan Islam. Tentu kita tidak sedang mengatakan bahwa dakwah harus selalu dilakukan dalam lingkaran kecil. Rasulullah ﷺ kemudian menyampaikan dakwah secara terang-terangan dan risalah Islam terus disampaikan kepada masyarakat yang lebih luas. Namun, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa ada proses yang tidak dapat dilewati begitu saja. Mengenalkan kebaikan adalah satu hal, sementara menemani seseorang untuk terus bertumbuh dalam kebaikan adalah hal yang lain. Keduanya membutuhkan cara, waktu, dan perhatian yang berbeda.
Apa Kita Sudah Kenal? Barangkali salah satu hal yang perlu lebih sering kita renungkan adalah siapa sebenarnya orang-orang yang sedang kita ajak dalam dakwah. Di balik setiap peserta kegiatan, ada kehidupan yang tidak kita ketahui sepenuhnya. Ada mahasiswa yang sedang sibuk mengejar akademiknya. Ada yang sedang menghadapi persoalan keluarga. Ada yang merasa kehilangan arah. Ada yang ingin belajar agama tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Karena itu, dakwah tidak cukup hanya dengan menyiapkan materi yang baik. Kita juga perlu belajar mendengar, memahami, dan hadir. Terkadang, sebuah percakapan setelah kajian mungkin lebih berarti bagi seseorang daripada materi yang disampaikan di atas panggung. Terkadang pula, ajakan sederhana dari seorang teman menjadi alasan seseorang berani datang untuk pertama kalinya. Dakwah akhirnya bukan hanya tentang bagaimana kita menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana kita menghadirkan diri sebagai bagian dari proses seseorang menuju kebaikan.
Apakah yang Kita Mulai Perlu Kita Jaga? Sebuah seminar, tabligh akbar, atau kajian umum dapat menjadi pintu yang baik untuk mengenalkan Islam kepada lebih banyak mahasiswa. Dari sana, mungkin ada orang yang tertarik untuk belajar lebih jauh. Setelah sebuah kegiatan selesai, mungkin yang perlu kita pikirkan adalah ruang apa yang tersedia bagi mereka untuk melanjutkan proses tersebut. Kajian rutin pekanan, kelompok belajar, mentoring, diskusi, atau sekadar lingkungan pertemanan yang baik dapat menjadi ruang untuk itu. Tidak semuanya harus berbentuk program yang besar. Yang penting adalah adanya ruang yang membuat seseorang tidak merasa bahwa perjalanan belajarnya berhenti setelah satu kegiatan. Sebab dalam proses memperbaiki diri, manusia membutuhkan lingkungan. Ada kalanya semangat datang dengan mudah, tetapi ada pula masa ketika semangat itu menurun. Pada saat seperti itulah, keberadaan orang-orang yang saling mengingatkan menjadi sangat berarti. Dakwah adalah Peran Kita Bersama Dakwah bukan hanya milik mereka yang namanya tercantum dalam struktur organisasi. Ada yang berdakwah melalui ilmu. Ada yang mengajak temannya menghadiri kajian. Ada yang menjadi mentor. Ada yang membantu di balik layar. Ada pula yang mungkin belum merasa dirinya mampu berdakwah, tetapi berusaha memperbaiki diri dan mengajak orang terdekatnya dalam kebaikan. Setiap orang memiliki ruang untuk mengambil bagian. Begitu pula dengan berbagai lembaga dan komunitas dakwah di kampus. Masing-masing memiliki karakteristik, pendekatan, dan ruang gerak yang berbeda. Perbedaan itu tidak harus menjadi jarak. Ketika ruang-ruang dakwah dapat saling mendukung, mahasiswa memiliki lebih banyak pintu untuk mengenal Islam dan menemukan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya. Sinergi tidak selalu harus dimulai dari sebuah acara besar. Ia bisa tumbuh dari hal sederhana, seperti saling menginformasikan kegiatan, berbagi pengalaman, membuka ruang kolaborasi, atau saling membantu ketika ada kebutuhan. Pada akhirnya, kebaikan yang tumbuh di satu tempat dapat menjadi bagian dari kebaikan yang lebih luas.
Menjaga Niat di Tengah Kesibukan Berdakwah Semakin banyak kegiatan yang kita jalankan, semakin banyak pula hal yang harus dipikirkan. Target, publikasi, kepanitiaan, jumlah peserta, dokumentasi, hingga evaluasi menjadi bagian dari aktivitas dakwah. Semua itu penting. Tetapi di tengah kesibukan tersebut, ada satu hal yang jangan sampai tertinggal, yaitu niat. Kita perlu sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya sedang kita cari dari semua ini. Apakah kita masih melihat dakwah sebagai amanah? Apakah kita masih memikirkan orang-orang yang kita ajak setelah kegiatan selesai? Apakah kita masih bersedia melakukan hal-hal kecil yang mungkin tidak terlihat, tetapi dibutuhkan untuk menjaga proses mereka? Pertanyaan semacam ini bukan untuk menghakimi diri sendiri. Justru, ia menjadi cara untuk menjaga agar langkah kita tetap berada pada arah yang benar. Kita mungkin tidak pernah tahu sejauh mana sebuah kebaikan akan berjalan setelah kita menyampaikannya. Bisa jadi, kita hanya melihat seseorang hadir dalam sebuah kajian, tanpa pernah tahu bahwa setelahnya ia mulai memperbaiki salatnya. Bisa jadi, kita hanya mengajak seseorang datang, tanpa pernah tahu bahwa pertemuan itu menjadi awal dari perjalanannya untuk kembali belajar Islam. Karena itu, tugas kita bukan memastikan seberapa besar hasil yang terlihat. Tugas kita adalah berusaha menyampaikan kebaikan dengan cara terbaik dan menjaga niat karena Allah. Tidak semua hal dalam dakwah harus terlihat besar. Tidak semua keberhasilan dapat dihitung. Ada kebaikan yang tumbuh perlahan, jauh dari sorotan, tetapi mungkin justru bertahan lebih lama.
Maka, mari terus mengambil bagian dalam dakwah dengan cara yang kita mampu. Membuka pintu bagi mereka yang ingin mengenal Islam, menemani mereka yang sedang belajar, dan menjaga ruang-ruang kebaikan agar tetap hidup. Sebab mungkin dakwah bukan tentang membuat sebanyak mungkin orang datang kepada kita, tetapi tentang memastikan bahwa kebaikan yang kita sampaikan menemukan jalannya di hati mereka. Dan mungkin, di situlah kita menemukan jawaban dari pertanyaan di awal. Dakwah bukan hanya soal ramai. Dakwah adalah tentang sampai.
